EnglishIndonesian

Gencarkan Hilirisasi Produk Pertanian, Puslitbangnak Terima Kunjungan Tenaga Ahli Menteri di Bidangnya

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 14 Februari 2022.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Pertanian Dr. Ir. Syarif Burhanuddin M.Eng. IPU kunjungi Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak)  pada 14 Februari 2022 di Bogor.  Kunjungan ini dimaksudkan dalam rangka diskusi akselerasi hilirisasi hasil inovasi teknologi peternakan. Kunjungan  Dr. Ir. Syarif Burhanuddin diterima Kepala Puslitbangnak Dr. Drh. Agus Susanto M.Si., beserta jajarannya, Kepala Balai penelitian Ternak (Balitnak) Dr. Andi Baso Lompengeng Ishak dan peneliti.

Agus Susanto dalam sambutannya menyampaikan bahwa "Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dalam hal ini Puslitbangnak melalui Balitnak telah menghasilkan banyak inovasi di bidang peternakan. Antara lain bibit ternak, pakan, veteriner dan aplikasi-aplikasi berbasis android". Koordinator Kerjasama dan Diseminasi Hasil Penelitian (KSPHP). Dr. Andi Saenab  dalam presentasinya memaparkan Inovasi dan produk unggulan lingkup Puslitbangnak.

Syarif Burhanuddin dalam sambutannya menyampaikan "hilirisasi inovasi teknologi bisa disebut berhasil apabila sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain itu beliau juga menyampaikan Inovasi teknologi harus memenuhi persyaratan agroteknologi, budaya masyarakat dan peluang pasar. Inovasi teknologi harus menjadi unggulan. Peneliti harus menghasilkan produk yang berbeda dengan produk lainya dan harus unggul, efisiensi yang tinggi dalam proses produksinya. Indikator paling penting dalam hilirisasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dan mampu dijangkau oleh daya beli masyarakat".

Andi Baso menyampakan “Output nya sudah ada, tapi outcome nya belum terlihat. Penelitian tidak hanya sekedar menghasilkan rekomendasi atau sebatas di laboratorium, namun bisa terdiseminasi secara luas ke masyarakat". Prof Arnold Sinurat, peneliti Balitnak menyampaikan "hilirisasi sangat penting, sebagai contoh bahan pakan yang masih tergantung barang impor, mengakibatkan harganya mahal". Sementara itu, Prof Ismeth Inounu menyampaikan bahwa "untuk memuluskan hubungan antara BRIN dan Kementan, hendaknya dapat dibuat MOU tentang kerjasama penelitian. Kementan dapat mengusulkan teknologi yang dibutuhkan oleh Kementan hendaknya dapat diteliti di BRIN. Dengan demikian kebutuhan dukungan teknologi untuk pembangunan pertanian dapat selalu tersedia.Selain itu Kementan dapat memberikan masukan untuk perbaikan teknologi yang dihasilkan oleh BRIN berdasarkan hasil penerapannya di lapang". 

Prof Atien Priyanti menyampaikan "Balitbangtan telah melaksanakan kegiatan Riset dan Pengembangan Inovasi Kolaboratif (RPIK) yang dijadwalkan untuk tahun 2021-2024. Program ini bersifat dari hulu ke hilir. Dalam kegiatan ini berbagai disiplin ilmu diintensifkan untuk memecahkan masalah pembangunan pertanian di Indonesia. Program ini juga melibatkan swasta dan pihak pemda dalam pelaksanaannya . Diharapkan program ini dapat tetap berjalan sampai dengan 2024 seperti yang dicanangkan di awal".

Dalam kunjungan kerja Tenaga Ahli menteri Puslitbangnak menggelar mini ekspose hasil inovasi dari Balai Penelitian Ternak seperti ayam KUB, ayam Gaok, ayam Sensi Abu, itik Master, itik PMP, itik mojosari, kelinci Hycole dan Hayla serta produk Pakan Imbuhan dan juga info teknologi berupa leaflet. Potensi hilirisasi di bidang pertanian atau di peternakan sangat luas. Hal ini membuktikan  bahwa potensi di bidang peternakan atau pertanian itu sangat potensial. (REP)

Bagikan Berita ini