EnglishIndonesian

Focus Group Discussion Perhitungan Inventory Gas Rumah Kaca Nasional Sektor Peternakan

Kategori: Informasi Aktual Diunggah Pada: 29 Juni 2021.

Focus Group Discussion (FGD) Perhitungan Inventory Gas Rumah Kaca Nasional Sektor Peternakan telah dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2021 di Aula Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak).  Pembicara dalam FGD adalah Dr. Ir. Yeni Widiawati, peneliti Balitnak dengan paparan berjudul. Updating Data Aktivitas  Inventory Dan Mitigasi Gas Rumah Kaca dari Peternakan. Kemudian dilanjutkan oleh narasumber kedua Ahdan Hamid, dari Kasubdit Pakan Hijauan Direktorat Pakan dengan judul paparan Kebijakan Pengembangan Pakan. Narasumber ketiga Drh. Fadjar STR, Phd, dari Direktorat Kesehatan Hewan  menyampaikan paparan dengan judul Ketersediaan Sapi Bakalan Impor Selama 2 Tahun Terakhir (2020-2021). Paparan keempat dan kelima disampaikan oleh Ir. Eliza Diani, MP, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak dengan judul paparan Sebaran Sapi Siap Potong Tahun 2021 dan Direktorat Inventarisasi GRK dengan judul paparan  Sistem Penyelenggaraan Inventarisasi GRK dan MRV Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kegiatan inventory GRK sudah dilaksanakan sejak 2012. Hingga saat ini proses inventory dan metode penghitungan terus diupayakan menjadi lebih baik. Puslitbangnak mengkoordinasi institusi-institusi yang terlibat, seperti BPPT, Universitas Diponegoro, Balingtan, dan lainnya. Updating data aktivitas dilakukan dengan didukung sejumlah lembaga, seperti AgResearch New Zealand. Rencananya dalam empat tahun ke depan kegiatan ini akan kembali di-support. Penghitungan emisi subsektor peternakan sudah menggunakan metode Tier 2 yang menggunakan Faktor Emisi sesuai kondisi lokal dan penggunaan subkategori ternak.

Kegiatan Pakan mengikuti program dan perencanaan di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Saat ini kegiatan pakan dilakukan dalam skala yang lebih luas ke peternak. Arahan Direktur Pakan dalam beberapa kesempatan disampaikan bahwa dalam kegiatan pakan harus ada pemanfaatan biomassa, karena sulit menambah lahan untuk pakan. Sapi dan kerbau mengikuti lokasi peternak bermukim. Lahan-lahan yang digunakan untuk penanaman pakan relatif jauh karena lahan di sekitar rumah lebih prioritas untuk pangan dan hortikultura. Kegiatan pakan pada TA 2021 dikelompokkan menjadi Hijauan Pakan Ternak; Pakan Olahan dan Bahan Pakan. Dalam kegiatan tersebut difasilitasi peralatan untuk bank pakan, sehingga bisa tumbuh sekala usaha/bisnis. Pabrik pakan konsentrat tumbuh melaju, namun masih didominasi untuk kebutuhan industri unggas. Berdasarkan luasan, kegiatan pakan sudah memfasilitasi 9000 ha lebih.

Dalam kebijakan impor sapi bakalan, kewajiban rasio sapi bakalan dan sapi induk sebesar 5 : 1 berubah menjadi 30 persen kapasitas kandang. Bahkan, selama pandemi Covid, kebijakan impor sapi induk dihentikan. Impor sapi, tidak boleh dalam keadaan bunting diatas 6 bulan, karena akan membahayakan sapi tersebut. Data terakhir pada 2020 menunjukkan realisasi impor sapi bakalan mencapai 461.130 ekor. Lokasi feedloter tersebar di enam provinsi, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur. Dalam pemeliharaan sapi potong, dapat dipertimbangkan kegiatan mitigasi GRK berupa pemberian enzim, dan probiotik.

Direktorat Pakan selalu mensosialiasikan kepada kelompok bahwa dalam pakan harus mengandung rumput dan legume. Namun hal tersebut tidak dicantumkan dalam juknis karena kondisi karakteristik lahan berbeda antara satu dan lainnya. Saat ini dan kedepan, kesadaran masyarakat menggunakan rumput dan legume semakin tidak terlihat. Bagi petani pakan hijauan yang paling umum adalah rumput gajah, tapi sekarang muncul verietas-varietas baru yang lebih unggul dalam adaptasi kekeringan dan basah, misalnya rumput odot. Rumput odot dalam satuan yang sama lebih unggul. Sedangkan Indigofera sudah memasyarakat, bahkan varietasnya sudah dilepas. Kegiatan pakan dengan APBN tergolong kecil justru jauh lebih besar kegiatan dengan dana APBD.

Langkah dan upaya peningkatan metode penghitungan Tier 2 pada sektor peternakan, khususnya pada manure management, mendapat dukungan dari KLHK. Perhitungan per provinsi akan lebih membuat data semakin akurat. Selain itu, diperlukan juga penghitungan uncertainty yang disyaratkan oleh lembaga internasional dan lembaga donor.

FGD dihadiri oleh Irawan Asaad Heri Purnomo, Saiful Erthif (Direktorat Inventarisasi GRK dan Monitoring, Pelaporan, dan Verifikasi KLHK), Fadjar STR (Direktorat Kesehatan Hewan PKH), Eliza Diany , Sri Lestari, Muslimias (Direktorat Pembibitan dan Reproduksi PKH), Ahdan Hamid Prawesta Satwika, Jawahirul Arifah (Direktorat Pakan PKH) dan M Nasir Rofid (BPPT), Yeni Widiawati, Agustin Herliatika, dan Slamet Widodo (Balai Penelitian Ternak), Muhammad Ikhsan Shiddiqie, Hasanatun Hasniah, Tessa Magrianti dan Rahmawati (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan) (REP)

Bagikan Berita ini